KEMAMPUAN MENGGUNAKAN TANDA BACA DALAM KARANGAN SISWA KELAS VII SMPN 1 KUTA UTARA, KABUPATEN BADUNG TAHUN PELAJARAN 2008/2009

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan diuraikan secara berturut – turut adalah : (1) latar belakang masalah penelitian, (2) masalah penelitian, (3) tujuan penelitian, (4) ruang lingkup penelitian, (5) asumsi – asumsi, (6) hipotesis.

1. 1 Latar Belakang Masalah Penelitian

Dalam dunia pendidikan telah diketahui bahwa pengajaran bahasa merupakan kunci sukses bagi segala kegiatan pendidikan. Pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi oleh karena itu pembelajaran bahasa indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan.

Dalam berkomunikasi dengan bahasa ada empat komponen berbahasa yang tercakup di dalamnya yaitu menurut (Trigon 1991: 1): (1) Keterampilan menyimak, (2) Keterampilan berbicara, (3) Keterampilan membaca,(4) Keterampilan menulis. Keempat komponen itu di dalam pelaksanaannya saling terkait hingga harus dilaksanakan sejalan dan terpadu. Keterampilan berbahasa dan menulis ini sangat penting untuk diajarkan pada sejak dini agar dapat dijadikan bekal pada jenjang yang lebih tinggi dan juga berfungsi melatih siswa di dalam menyampaikan atau mengungkapkan buah pikirannya baik dalam bentuk kalimat maupun dalam bentuk karangan.

Keterampilan menulis yang merupakan salah satu komponen keterampilan berbahasa sangatlah penting diajarkan sejak dini. Hal ini disamping dapat dijadikan bekal untuk jenjang sekolah yang lebih tinggi, juga berfungsi melatih siswa di dalam menyampaikan atau mengungkapkan buah pikirannya secara teratur, baik berbentuk kalimat – kalimat maupun berupa karangan.

Di dalam menyusun suatu karangan seorang penulis hendaknya memahami hal-hal yang penting yang ada di dalamnya seperti penggunaan ejaan – ejaan, pemilihan kata, penggunaan kalimat – kalimat efektif, dan penggunaan tanda baca. Sehingga pengarang dapat menghasilkan suatu karangan yang berkualitas dan bermutu serta isinya mudah dipahami oleh pembaca. Penggunaan tanda baca sangatlah penting dalam menyusun karangan dengan maksud agar penulis atau pengarang dapat lebih mudah dalam menyampaikan isi karangannya kepada pembaca sehingga pembaca dapat memahami isi karangan dengan cepat.

Adanya penggunaan tanda baca dalam menyusun karangan adalah dengan maksud untuk membantu pengarang atau penulis dalam memperjelas dan mempertegas isi karangan yang disampaikan kepada pembaca. Sehubungan dengan tanda baca ada yang menyatakan bahwa karangan selalu berupa bahasa tertulis, dimana dalam beberapa hal tidak sama dengan bahasa lisan. Banyak alat – alat bahasa seperti : lagu, jeda, intonasi, apabila dilukiskan dalam bahasa tulisan maka akan menemui kesulitan dalam membaca, dan untuk menutupi kesulitan – kesulitan itu maka dibuatkanlah  tanda baca ( Poerwadarminta, 1981 : 14 )

Secara teoritis di dalam memahami tentang penggunaan serta penempatan tanda baca akan dapat mempengaruhi hasil suatu karangan untuk menunjang peningkatan keterampilan dalam berbahasa. Sebab melalui keterampilan mengarang inilah kita dapat membantu melatih dan membina para siswa di dalam meningkatkan kemampuan dalam keterampilan menulis khususnya menyusun karangan .Agar kita mendapatkan hasil yang bermurtu dalam menyusun karangan hendaknya memperhatikan penggunaan tanda baca. Penggunaan tanda baca dalam karangan ini juga dapat memperjelas makna dan intonasi dari suatu kalimat,sehingga memudahkan pembaca dalam memahami isi karangannya. Atas dasar inilah penulis berhasrat untuk melakukan penelitian tentang “ Kemampuan Menggunakan Tanda Baca Dalam  Karangan Siswa Kelas VII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2007/2008 “.

1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan dibahas adalah: Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung menggunakan tanda baca dalam karangan Tahun Pelajaran 2008/2009 ?

1. 3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam rumusan masalah ,maka tujuan penelitian ini diuraikan secara umum dan secara khusus sebagai berikut :

1.3.1        Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini dilaksanakan agar dapat memberikan sumbangan pada pengajaran Bahasa Indonesia dalam kaitannya untuk meningkatkan mutu pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah terutama tentang penggunaan tanda baca dalam menyusun karangan, dan memberikan sedikit pedoman kepada guru – guru bahasa Indonesia dalam mengajarkan materi tentang pentingnya tanda baca dalam menyusun karangan

1.3.2        Tujuan Khusus

Untuk memperoleh data dan informasi yang selengkap-lengkapnya ,serta untuk mengetahui kemampuan siswa tersebut di dalam menggunakan tanda baca dalam menyusun karangan pada siswa kelas VII SMPN 1 Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2008/2009.

1. 4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini disusun berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang hendak dicapai oleh penulis. Di sini penulis hanya akan membahas mengenai jenis-jenis tanda baca menurut ejaan bahasa Indonesia yang di sempurnakan (EYD).Adapun jenis-jenis tanda baca menurut ejaan yang di sempurnakan adalah sebagai berikut:

  1. Tanda Baca Titik ( . )
    1. Tanda Baca Koma ( , )
    2. Tanda Baca Titik Koma ( ; )
    3. Tanda Baca Titik Dua ( : )
    4. Tanda Baca Hubungan ( - )
    5. Tanda Baca Tanya ( ? )
    6. Tanda Baca Seru ( ! )
    7. Tanda Baca Kurung ((…))
    8. Tanda Baca Petik (“…”)
    9. Tanda Baca Garis Miring (…/…)

1. 5 Asumsi

Sebelum penelitian ini di laksanakan ,penulis akan menyampaikan beberapa asumsi yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penelitian. Asumsi tersebut    antara lain:

  1. Semua siswa Kelas VII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung mempunyai fasilitas belajar yang dapat menunjang proses belajar mengajar.
    1. Kondisi fisik dan psikologis siswa dan guru dianggap sama.

Guru-guru Bahasa Indonesia dimana penulis mengadakan penelitian mempunyai kemampuan dan wewenang yang sama

1. 6 Hipotesis

Hipotesis diartikan sebagai suatu pernyataan atau dugaan sementara yang masih perlu diadakan pengujian tentang kebenarannya. Hipotesis juga diartikan bahwa, “ Suatu pernyataan yang belum sepenuhnya diakui kebenarannya. Benar tidaknya hipotesis harus diuji terlebih dahulu “ ( Netra, 1974 : 15 ). ,mengetahui kesimpulan yang lebih terarah.Berdasarkan pokok permasalahan di atas maka hipotesis penelitian ini adalah “ Siswa Kelas VII SMPN 1  Kuta Utara, Kabupaten Badung  mampu menggunakan tanda baca dalam menyusun sebuah karangan, Tahun pelajaran 2007/2008.

BAB II

LANDASAN TEORI

Suatu penelitian sudah seharusnya di dasari atau di tunjang dengan teori – teori yang relevan, yang mendukung penelitian yang sedang dilaksanakan. Teori – teori ini nantinya akan berguna disamping sebagai pedoman di dalam melaksanakan penelitian.Disamping itu berguna juga untuk menambah wawasan baik terhadap peneliti sendiri maupun terhadap pembaca.

Secara garis besar dalam landasan teori ini ada beberapa teori – teori yang akan di bahas diantaranya adalah (1) Pengertian karangan, (2) Langkah – langkah menyusun kerangka karangan, (3) Jenis – jenis karangan  (4) Pengertian Tanda Baca, (5) Pemakaian Tanda Baca.

2. 1 Pengertian Karangan

Pengertian mengarang dikemukakan oleh beberapa ahli. ( Burhan : 1988 ) berpendapat bahwa mengarang adalah kemampuan melahirkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tertulis. Menurut ( Gorys Keraf : 1995 ) bahwa melalui kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk dan dibina serta dikembangkan, sehingga dapat diturunkan kepada generasi yang akan datang. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang ada disekitar kita, peristiwa, binatang, tumbuhan, hasil karya cipta manusia disusun dan diungkapkan kepada orang lain melalui bahasa yang baik.

Karangan adalah merupakan sebuah wacana yang mandiri dan bebas, yang tidak mempersoalkan panjang pendeknya. ( kereaf 1994 : 120 )

Disamping itu mengarang juga bukan hanya sekedar ketrampilan menulis tetapi ada maksud-maksud tertentu yang terkandung di dalamnya. Mengarang adalah merupakan menceritakan sesuatu yang dibuat-buat. ( poerwadarminta, 1978 : 445)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mengarang merupakan suatu ketrampilan untuk menuangkan pikiran, perasaan, suasana kebatinan dengan menggunakan bahasa tulisan yang baik dan benar sehingga dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Dalam sebuah karangan terdiri dari beberapa paragraf, dimana setiap paragraf mengandung suatu pikiran utama. Dengan mengarang akan melatih orang berpikir secara kreatif. Selain itu mengarang dapat mengembangkan imajinasi atau daya khayal yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

2. 2 Langkah-langkah Menyusun Kerangka Karangan

Jarang terdapat orang – orang yang langsung menuangkan isi pikirannya sekaligus secara teratur, rinci dan sempurna di atas kertas. Dengan kata lain, seorang penulis jika menginginkan tulisannya lahir secara terinci, maka terlebih dahulu harus mempersiapkan langkah – langkah penuntun. Secara garis besarnya, langkah – langkah menyusun sebuah kerangka karangan adalah : (1) Merumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai, (2) Mengumpulkan bahan atau data, (3) Membuat kerangka, (4) Mengembangkan kerangka menjadi sebuah karangan ( Goys Keraf, 1980 : 112 ).

Tema atau topik dirumuskan pertama dengan maksud memfokuskan diri mencari bahan, mengelola bahan untuk dijadikan sebuah karangan. Selanjutnya tujuan dirumuskan agar terfokus pada sasaran yang ingin dicapai melalui pengolahan bahan. Agar tujuan itu terwujud, maka kita perlu mengumpulkan bahan sebagai instrumen. Bahan – bahan itu hendaknya secara terinci, tertata dan sistematis di kelola untuk mencapai tujuan. Untuk itulah, langkah untuk menyusun kerangka karangan sangat di butuhkan. Kerangka karangan yang baik akan memungkinkan kerangka karangan menjadi sebuah karangan yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.Langkah membuat kerangka karangan dan mengembangkannya merupakan langkah – langkah yang membutuhkan perhatian tersendiri., karena kedua langkah ini membutuhkan konsentrasi dan kopetensi.

Pada umumnya, penulis pertama – tama harus membuat bagan atau rencana kerja, yang setiap kali mengalami perbaikan dan pengembangan kepada bentuk yang lebih sempurna. Untuk membuat perencanaan seperti itu, diperlukan metode yang teratur, sehingga pada saat menyusun bagian – bagian dari pokok yang akan digarap itu dapat dilihat hubungan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lain, sehingga dapat dipastikan bagian yang sudah baik dan bagian yang memerlukan penyempurnaan. Metode yang biasa dipakai untuk maksud tersebut disebut kerangka atau outline. Outline adalah suatu cara untuk menyusun suatu rangka yang jelas dan struktur teratur dari sisi karangan yang di garap          ( Keraf, 1980 : 115 )

2. 3 Jenis-jenis Karangan

Pada umumnya karangan dapat di bagi menjadi empat jenis yaitu, (1) Karangan narasi atau cerita, (2) Karangan eksposisi, (3) Karangan deskripstif atau lukisan, dan (4) Karangan argumentasi atau persuasi:

2.3.1        Karangan Narasi atau Cerita

Dalam karangan narasi atau cerita terdapat alur, penokohan, peristiwa dan penyelesaiannya ( Gorys Keraf, 1985 : 84 ). Alur atau plot adalah peristiwa sambung – menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan sebab akibat. Penokohan adalah cara pengarang menentukan tokoh ( pelaku ) sesuai dengan watak masing – masing pada sebuah cerita.

Beberapa hal – hal penting yang harus diingat dalam menyusun narasi adalah sebaga berikut :

  1. Isi cerita boleh nyata boleh pula khayal.
  2. Walaupun berkhayal ( berimajinasi ) kita tidak boleh sekehendak hati menciptakan cerita. Tokoh atau pelaku bersikap wajar, sesuai dengan watak dan kepribadian yang kita berikan kepadanya.
  3. Narasi harus sesuai dengan nalar ( logika ) sehingga cerita mudah dipahami.
  4. Cerita kita susun menurut urutan waktu yang baik, demikian juga urutan tempat kejadian, urutan penting dan tidak penting, dan sebaliknya.
  5. Tema atau inti cerita yang kita sampaikan dapat kita gali dari pengalaman pribadi, ditambah hasil pengamatan dan daya khayal

( Gorys Keraf, 1985 : 86 ).

2.3.2        Karangan Deskripsi atau Lukisan

Jenis karangan deskritif melukiskan suatu keadaan dengan kalimat sehingga menimbulkan suatu kesan yang hidup (Gorys Keraf, 1985 : 87). Misalnya, lukisan betapa indahnya pemandangan danau itu, kesibukan petani di sawah, dan bencana alam lainnya.

Lukisan itu harus kita sajikan sehidup – hidupnya, sehingga pembaca melihatnya sendiri, apa yang kita lihat, mendengar sendiri apa yang kita dengar, dan dapat pula merasakan apa yang kita rasakan. Dalam karangan deskripsi, pembaca kita ajak mendalami apa yang kita alami. Agar lukisan kita itu kelihatan hidup, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti :

  1. Kita perlu melatih diri untuk mengamati sesuatu dengan cermat. Segala sesuatu yang ada di sekeliling kita semua itu dapat kita amati.
  2. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan kita tulis dengan teliti.             (Gorys Keraf, 1985 : 87).

2.3.3        Karangan Eksposisi atau Paparan

Seorang ahli mengemukakan seseorang membuat karangan atau tulisan eksposisi akan mengatakan, “ Saya menceritakan kepada kalian semua kejadian dan peristiwa ini dan menjelaskan saudara– saudara dapat dapat memahami”. Maka ia akan menggunakan pengembangan secara analis dan kronologis. Pengarang berusaha memaparkan atau kejadian agar pembaca memahaminya. ( Keraf, 1985 : 90 ). Jadi karangan eksposisi sifatnya memberikan penjelasan sebaik – baiknya, agar pembaca dapat memahami isi karangan dengan mudah.

2.3.4        Karangan Argumentasi ( Kebenaran Suatu Pendapat )

Karangan argumentasi berusaha uyntuk meytakinkan pembaca atau pendengar untuk percaya dan menerima apa adanya. Pengarang argumentasi selalu memberikan bukti dengan objektif dan meyakinkan. Pengarang dapat meyakinkan argumentasi dengan lima cara yaitu : (1) contoh – contoh, (2) Analogi, (3) Sebab dan akibat, (4) sebab – sebab dan akibat, (5) pola – pola deduktif ( Keraf 1985 : 5 ).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karangan argumentasi adalah sebuah karangan yang mengemukakan alasan, sehingga pembaca akan terpengaruh dan membenarkan gagasan penulis

2. 4 Pengertian Tanda Baca

Tanda baca pada hakekatnya adalah merupakan alat Bantu yang berupa tanda-tanda baca untuk memperjelas maksud serta tujuan yang terkadung dari bahasa itu sendiri. Tanpa adanya tanda baca, suatu bahasa akan sangat sulit menduduki dirinya sebagai sarana komunikasi yang paling efektif ( Nafiah, 1981 : 12 ).

Tanda baca di dalam bahasa tulis dapat dipakai sebagai alat pengganti yaitu tanda baca dapat menggantikan unsur – unsur non bahasa dalam batas – batas tertentu seperti mimic, jeda, lagu, intonasi, dan aksen yang terdapat dalam bahasa lisan, sehingga gagasan atau pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh pembaca ( Akhadiah, 1992 : 1 ).

Dalam suatu penuturan yang tidak disertai dengan tanda baca merupakan suatu teka – teki bagi pembaca, sehingga pemahaman yang dimiliki oleh pembaca merupakan suatu perbedaan saja. ( Poerwadarminta, 1981 : 14 )

Berbicara mengenai Tanda Baca, tidak bisa lepas dari permasalahan yang menyangkut : ( 1 ) arti tanda baca, ( 2 ) latar belakang tanda baca, ( 3 ) jenis dan fungsi tanda baca.

2.4.1        Arti Tanda Baca

Dalam pengertian sehari – hari bahasa lebih diidentikan dalam bahasa lisan, tetapi untuk menuangkannya dalam bahasa tulisan sebagai pencerminan dari bahasa lisan menjadi agak sulit dan untuk memudahkannya dibuatlah tanda baca.

Apabila kita menggunakan bahasa lisan, orang akan lebih mudah untuk memahami apa yang dimaksud oleh penuturnya. Hal ini dikarenakan adanya intonasi pada kalimat – kalimat yang diucapkan. Tetapi segalanya akan menjadi lain ketika percakapan itu di tuangkan ke dalam bahasa tulisan, sebab segala intonasi yang terdapat dalam bahasa ragam lisan itu akan sukar untuk diungkapkan dengan bahasa ragam tulisan. Untuk menutupi segala kekurangan dan kesukaran itulah tanda baca sangat di butuhkan sebagai kunci atas apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca ( Keraf 1984 : 14 ).

2.4.2        Latar Belakang Tanda Baca

Pengarang pada umumnya kebanyakan lebih suka memperindah kata – kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat yang menarik, namun kata yang indah dan menarik itu belum tentu bisa dikatakan sempurna makanya tidak jarang dapat menimbulkan suatu hal yang kurang baik.Dalam beberapa hal bahasa lisan berbeda sedemikian rupa dengan bahasa tulisan. Umumnya bahasa tulisan ditandai dengan lagu, jeda, dan intonasi pada kalimat – kalimat yang disampaikan.Bila dituangkan dalam bahasaa tulisan maka akan sering dijumpai kesukaran – kesukaran sehingga tanpa adanya tanda – tanda baca, maka kesukaran – kesukaran itu tentu saja tidak akan dapat  tertanggulangi.Untuk menutup segala kekurangan itulah maka dibentuk tanda baca ( Poewardaminta, 1981 : 19 ).

Faktor – faktor yang mendukung terbentuknya suatu karangan salah satunya adalah tanda baca. Pada umumnya penulis sering mengabaikan penggunaan tanda baca tersebut. Peranan tanda baca di sini sangat penting di dalam membantu pembaca untuk memahami isi sutu karangan dengan benar. Jadi latar belakang terciptanya tanda baca di sini adalah tanda baca di sini terbentuk atas dasar kesulitan atau kekurangan dari bahasa lisan yang dituangkan ke dalam bahasa tulisan. Apa bila dituangkan ke dalam bahasa tulisan tidak mungkin bisa, maka dari itu untuk menutupinya diciptakan tanda baca.

Karangan yang baik tidak hanya di lihat dari segi kalimat serta keindahan kata – katanya saja, tetapi hendaknya juga memperhatikan faktor – faktor yang lainnya, salah satu diantaranya adalah tanda baca. Pada umumnya kebanyakan penulis sering mengabaikan penggunaan tanda baca dalam karangannya. Padahal peran tanda baca sangat penting sekali dalam membantu pembaca memahami isi suatu karangan dengan tepat dan benar. Mengingat betapa pentingnya tanda baca dalam sebuah karangan maka penulis akan mencoba memaparkan latar belakang terciptanya tanda baca berdasarkan beberapa ahli bahasa. Yang penulis baca dari beberapa buku karyanya.

Dalam beberapa hal bahasa lisan berbeda dengan bahasa tulisan. Umumnya bahasa lisan ditandai dengan lagu, jeda, intonasi, serta akses pada kalimat – kalimat yang disampaikan. Bila dituangkan dalam bahasa tulisan sering menjumpa     kesukaran – kesukaran. Tanpa adanya tanda – tanda baca, kesukaran itu tentu tidak  akan tertanggulangi. Untuk menutupi kekurangan itulah maka tanda baca dibentuk (Poerwadarminta, 1981 : 14).

2.4.3        Jenis Tanda Baca

Menurut pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan jenis tanda baca dapat digolongkan menjadi :

  1. Tanda baca titik yang penulisannya ditandai dengan ( . )
  2. Tanda baca koma yang penulisannya ditandai dengan ( , )
  3. Tanda baca titik koma yang penulisannya ditandai dengan ( ; )
  4. Tanda baca titik dua yang penulisannya ditandai dengan ( : )
  5. Tanda baca hubungan yang penulisannya ditandai dengan ( – )
  6. Tanda baca pisah yang penulisannya ditandai dengan ( _ )
  7. Tanda baca elipsis yang penulisannya ditandai dengan ( … )
  8. Tanda baca tanya yang penulisannya ditandai dengan ( ? )
  9. Tanda baca seru yang penulisannya ditandai dengan ( ! )

10.  Tanda baca kurang yang penulisannya ditandai dengan (( …))

11.  Tanda baca kurung siku yang penulisannya ditandai dengan

( [ ... ] )

12.  Tanda baca petik yang penulisannya ditandai dengan ( “…” )

13.  Tanda baca petik tunggal yang penulisannya ditandai dengan

( ‘…’ )

14.  Tanda baca garis miring yang penulisannya ditandai dengan

( / )

15.  Tanda baca penyingkat atau apostrof yang penulisannya ditandai dengan ( ‘ )

2.4.4        Fungsi Tanda Baca

Tanda baca adalah merupakan suatu alat Bantu untuk menandakan atau memperjelas maksud serta tujuan penulis dalam karangannya. Dengan adanya alat Bantu yang berupa tanda baca pada sebuah karangan akan memudahkan pembaca memahami isinya ( Nafiah, 1981 : 12 ).

Karangan selalu merupakan bahasa yang tertulis, yang dalam beberapa hal tidak sama dengan bahasa lisan.Unsur – unsur bahasa yang ada dalam bahasa lisan yang berupa intonasi, jeda, lagu, aksen, dan sebagainya sangatlah sukar apabila dituangkan ke dalam bahasa tulisan. Disinilah terasa bahwa tanda baca mempunyai peranan yang sangat penting dalam menguak teka – teki terhadap masalah yang terkandung dalam sebuah karanga ( Poerwadarminta, 1981 : 14 ).

Di samping itu tanda baca juga dapat berperan dalam suatu tulisan yaitu sebagai alat pengganti terhadap unsur – unsur non bahasa seperti intonasi, dan lain sebagainya yang terdapat dalam bahasa lisan. Apabila tanda baca tidak ada maka akan menyulitkan pembaca memahami isim karangan. ( Akhadiah 1992 : 25 )

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi tanda baca disini adalah sebagai alat bantu dan sebagai alat pengganti unsur – unsur non bahasa dengan maksud agar memudahkan pembaca memahami ahli suatu tulisan.

2. 5 Pemakaian Tanda Baca

Seperti yang sudah di kemukakan sebelumnya mengenai tanda baca, tanda baca disini juga dipakai suatu kata menjadi suatu kalimat. Ada pun pemakaian tanda baca yang akan di jelaskan disini berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Hal ini penulis lakukan sebab dari berbagai pustaka yang penulis baca terdapat banyak persamaannya yaitu menggunakan Ejaan yang Disempurnakan sebagai pedoman.

2.5.1      Tanda Titik ( . )

  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Contoh :

a.1   Tai baru lulus ujian.

a.2   Ibu saya adalah seorang guru.

a.3   Aku ingin duduk disana.

a.4   Hari ini adalah hari sabtu.

  1. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang

Contoh :

b.1  A.A. Raka Sidan.

b.2  I.B. Manuaba

b.3  Muh. Rizki

b.4  F. Oka pramana

  1. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, atau sapaan.

Contoh :

c.1   Dr. ( Doktor )

c.2   Ir. ( Insinyur )

c.3   Drs. ( Dokterandus)

c.4   S.E  ( Sarjana ekonomi )

c.5   Prof. ( Propesor )

  1. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.

Contoh :

d.1  yth. ( yang terhormat )

d.2  sbg. ( sebagai )

d.3  dll. ( dan lain – lain )

d.4  kpd. ( kepada )

  1. Tanda titik yang dipakai dalam singkatan yang terdiri atas huruf – huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya.

Contoh :

e.1   TNI     = Tentara Nasional Indonesia

e.2   UNMAS = Universitas Mahasaraswati

e.3    BBM = Bahan Bakar Minyak

e.4   NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia

  1. Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan,    ikhtiar, atau daftar.

Contoh :

f.1    Bab I. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Runusan Masalah

1.3. Tujuan Penelitian

f.2   Bab II. Landasan Teori

2.1. Pengertian Pidato

2.2. Bagian – bagian Pidato

2.3. Cara Berpidato

2.5.2      Tanda Koma ( , )

  1. Tanda koma dipakai diantara unsur –unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh :

a.1   Ibu sedang memasak nasi, sayur, dan lauk

a.2   Kakek membeli jam, tv, dam kipas angin.

a.3   Peralatan yang di bawa sabit, cangkul, sapu, dan ember

  1. Tanda koma dipakai umtuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara  berikutnya yang didahului kata seperti, tetapi dan melainkan

Contoh :

b.1  Ani bukan pacarku, melainkan teman baik aku

b.2  Lintang anak yang pintar, tetapi dia sangat sombong.

b.3  Dia sangat cantik, tetapi dia sudah ada yang punya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimat

Contoh :

c.1   Walaupun saya sakit, saya tetap masuk sekolah.

c.2   Kalau kamu menang, aku akan memberi hadiah.

c.3   Karena sibuk, siska lupa makan.

  1. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat itu mengiringi induk kalimat.

Contoh :

d.1  Karena sudah kaya dia lupa keluarganya.

d.2  Saya tidak masuk sekolah karena sakit.

d.3  Kamu pasti menang kalau rajin latihan.

  1. Tanda koma dipakai dibelakang ungkapan atau kata sambung antara kalimat.

Contoh :

e.1   Oleh karena itu, kamu harus belajar.

e.2   Jadi, laki – laki itu adalah pacarmu.

e.3   Lagi pula, aku juga harus ikut.

  1. Tanda koma dibelakang kata – kata seperti : o, ya, wah, aduh, yang terdapat pada awal – awal kalimat.

Contoh :

f.1   Wah, cantik sekali.

f.2   Aduh, seksi sekali cewek itu.

f.3   O, kamu mau ikut ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain kalimat.

Contoh :

g.1  “ Tabrakan itu sangat mengerikan ” , kata kakak

g.2  “ Ibu sedang pergi “ , kata adik.

g.3  Kata ayah, “ paman akan berangkat hari ini “.

  1. Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat, tempat dan tanggal, nama wilayah atau negri yang ditulis berurutan.

Contoh :

h.1  Denpasar, 12 April 1996

h.2  Endy irawan, Jalan raya Canggu 101, Kuta utara.

  1. Tanda koma dipakai diantara nama penerbit dan tahun penerbit.

Contoh :

i.1    Depdikbud, 1996 Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan : Surabaya

i.2    Nurkencana, 1983 Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional

i.3    Poewadaminta, 1991. Karang Mengarang. Yogyakarata : UP. Karyono.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh :

j.1    Bloomfield, Leonardo, 1953. Language London : George Allen.

j.2    Keraf, Gorys, Tata Bahasa Indonesia. Ende : Nusa Indah, 1984

  1. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya,untuk membedakan singkatan nama keluarga atau marga.

Contoh :

k.1  Gede Endy irawan, SE.

k.2  Bambang Kusuma, SH.

k.3  Raka Sebastian, FT

  1. Tanda koma dipakai dimuka angka persepuluhan dan diantara rupiah dengan sendalam bilangan.

Contoh :

l.1    200,32 meter

l.2    Rp. 756, 45

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi

Contoh :

m.1 Bapak saya, Pak Surya, baik sekali

m.2 Si putih, Anjing kesayanga saya, tertabrak motor

2.5.3      Tanda Titik Koma ( ; )

  1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memilih bagian – bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Contoh :

a.1   Hari semakin siang ; kami belum juga makan.

a.2   Awan semakin gelap ; tapi belum juga hujan.

a.3   Angin topan telah berhenti ; keadaan pun telah kembali aman.

a.4   Kelinci lincah dan cerdik ; buaya galak dan buas

a.5   Hari ini tidak ada pelajaran ; anak – anak boleh pulang.

  1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara didalam suatu      kalimat majemuk sebagai pengganti kata penyambung.

Contoh :

b.1  Ayah adalas seorang ABRI ; Ibu mengajar di SD Canggu

b.2  Kakak belanja ke pasar ; Saya dan adik ke took buku.

b.3  Kakek mencangkul di sawah ; Nenek memasak di rumah

2.5.4      Tanda Titik Dua ( : )

  1. a.      Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

Contoh :

a.1   Untuk melengkapi isi dapur kita maka diperlukan : Meja, kursi, gelas, piring, sendok, rak piring, rak bumbu, dan tempat air.

a.2   Ayah membeli : baju, celana, sepatu, dan kaos kaki

a.3   Perlengkapan yang harus dibawa : ember, sapu, sabit, dan cangkul

a.4    Bahan – bahan yang diperlukan : tepung, telor, gula, susu, dan  pewarna

  1. b.       Tanda titik dua digunakan setelah ungkapan atau kata yang memerlukan pemberian.

Contoh :

b.1  Hari : Rabu

Tanggal : 12 April 1986

Waktu : 11.00 wita

Tempat : Ruang siding UNMAS Denpasar

Acara : Pemilihan ketua senat.

b.2  Ketua : Gede Endy Irawan

Sekretaris : Dewi Suantari Prapti Ningsih.

Bendahara : Kadek Dwi Indrayanti

  1. c.      Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan.

Contoh :

Andre        : “ Selamat pagi Desi, apa kabar ? “

Desi           : “ Pagi juga, kabarnya aku baik – baik saja “.

Andre        : “Nanti  pulang sekolah aku anter ya “.

Desi           : “ Boleh juga, kebetulan bapak tidak bisa jemput”.

Andre        : “ Kamu tidak bercanda kan…..? “

Desi           : “ Iya andre aku serius “.

Andre        : “ Ok deh Desi“.

  1. d.      Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemberian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Contoh :

c.1   Kita sekarang memerlukan buku, pensil, penghapus, dan penggaris.

c.2   Yang harus dibayar SPP, UTS, dan SKS.

2.5.5      Tanda Hubung ( – )

  1. a.      Tanda hubung menyambung suku – suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian  baris.

Contoh :

a.1   Kita harus selalu me-

lakukan kebaikan kepada orang.

a.2   Selama dua jam penjahat itu ter-

perangkap di toilet.

a.3   Tetaplah menjaga ke-

bersihan ruangan kelas.

  1. b.      Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata debelakangnya, atau akhiran  dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Contoh :

b.1  Mereka mendapat ilmu pengetahu- an tentang binatang

b.2  Kini ada cara baru untuk meng – ukur suhu

an tentang binatang.

  1. c.      Tanda hubung menyambung unsur – unsur kata ulang.

Contoh :

c.1   Keputih – putihan

c.2   Terbahak – bahak

c.3   Sepandai – pandainya

c.4   Satu – satunya

c.5   Lari – lari

c.6   Setinggi – tingginya

  1. d.      Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu – satu, bagian – bagian tanggal,  dan suku kata yang dipisah – pisahkan.

Contoh :

d.1  M-a-k-m-u-r.

d.2  S-e-m-p-u-r-n-a.

d.3  H-u-b-u-n-g-a-n.

  1. e.      Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian – bagian ungkapan.

Contoh :

e.1   Ber-uang dengan be-ruang

e.2   Meng-ukur dengan me-ngukur.

2.5.6      Tanda Pisah ( _ )

  1. a.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus diluar bangun kalimat.

Contoh :

Karangan yang lebih populer dapat mendorong – masyaraka awam- seperti saya ini – untuk mempergunakan bahasa Indonesia dengan  cara yang baik dan benar.

  1. b.      Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat  menjadi lebih jelas.

Contoh :

Rakyat Indonesia, pria – wanita, dewasa dan anak – anak- semua  menyambut gembira hasil PILPRES tahun 2009.

  1. c.      Tanda pisah dipakai diantara dua bilangan berarti sampai dengan atau diantara  nama kota berarti ke atau sampai.

Contoh :

c.1   Ejaan Soewandi berlaku sejak tahun 1947 – 1972

c.2   Yamaha Mio kemarin menempuh route Denpasar – Gilimanuk.

2.5.7      Tanda Elipsis ( … )

Tanda elipsis ( titik – titik ) yang dilambangkan dengan tiga titik (…) dipakai untuk menyatakan hal – hal sebagai berikut :

  1. a.      Tanda elipsis untuk menggambarkan kalimat yang terputus – putus.

Contoh :

Kalau gerogi … ya, bagaimana bisa bicaradengan baik di depan

Masyarakat.

  1. b.      Tanda  elipsis  menunjukan  bahwa  dalam  suatu  petikan  ada

bagian yang dihilangkan

Contoh :

Bencana alam itu … terjadi secara tiba – tiba.

2.5.8      Tanda Tanya ( ? )

  1. Tanda Tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Contoh :

a.1   Apakah nenek sudah sembuh ?

a.2   Kemana dia pergi ?

a.3   Apa yang kamu bawa ?

a.4   Dimana rumah pacarmu ?

a.5   Bagai manakah cara berpakaian yang baik ?

  1. Tanda Tanya dipakai diantara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang  bersangsikan atau kurang dapat di buktikan kebenarannya.

Contoh :

b.1  Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang

b.2  Trisna di lahirkan pada tahun 1985 (?)

2.5.9      Tanda Seru ( ! )

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan atau rasa emosi yang kuata.

Contoh :

  1. Tutup pintu itu !
  2. Masa anak sekecil itu bisa menari !
  3. Maju jalan !
  4. Berjuang terus !

2.5.10      Tanda Kurung ( (…)

  1. a.      Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.

Contoh :

a.1   SD ( Sekolah Dasar ) di desa saya sangat maju.

a.2   NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ) sedang mengalami musibah.

a.3   SIM ( Surat Ijin Mengemudi ) harus kita miliki.

  1. b.      Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.

Contoh :

Dalam landasan teori ini akan menjelaskan : (a) karangan, (b) Jenis karangan, (c) tanda baca, (d) jenis tanda baca.

  1. c.      Tanda kurung yang mengapit huruf  atau  kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Contoh :

c.1   Pemain sepak bola itu berasal dari ( kota ) Jakarta.

c.2   Data tersebut ( lihat table 09 ) menunjukan bahwa jumlah orang yang hadir pada pagi hari ini kebanyakan laki – laki.

2.5.11      Tanda Kurung Siku ( [ ] )

Tanda kurung siku dipakai mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang di tulis orang lain.

Contoh :

  1. Sinta sering meng [ u ] bah nilai rapotnya.
  2. Jangan suka mengambil keputusan secara emosion [a] l.
  3. Negara Indonesia sedang di [ l ] anda musibah.

2.5.12      Tanda Petik ( “…..” )

  1. a.      Tanda petik mengapit petikan langsung yang  berasal  dari  pembicaraan, naskah  atau bahan tulis yang lain.

Contoh :

a.1   Paman bertanya, “ Apakah tanaman yang di belakang rumah sudah di siram?”

a.2   “ Sudah, paman, “ jawabku.

  1. b.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, bab buku apabila dipakai dalam kalimat.

Contoh :

b.1  Sajak “ Aku Ada “ terdapat pada halaman 10 pada buku itu.

b.2  Bacalah “ Bola Lampu “ dalam buku dari satu masa, dari satu tempat.

b.3  Parafrasekanlah puisi “ Ibu “ bersama teman sebangkumu.

  1. c.      Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Contoh :

c.1   Diah berkata, “ Saya akan berangkat ke Bali. “

c.2    “Apa makanan kesukaanmu “ ? Tanya Andi.

  1. d.      Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang di kenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Contoh :

d.1  Banyak penderita “ HIV AIDS “ tidak bisa disembuhkan.

d.2  Temanku “ si gendut “ sangat suka makan sate kambing.

2.5.13      Tanda Petik Tunggal ( ‘…’ )

Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan    lain.

Contoh :

Bapak bertanya kepadaku : “ Adik, apakah kamu melihat ‘ kaos kaki ‘ di keranjang baju ?”

Tidak, mungkin masih di ‘jemuran’ belakang rumah, “jawab Adik

2.5.14      Tanda Garis Miring ( / )

  1. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.

Contoh ;

a.1   No : 723.3/123/FKIP/UNMAS.DPS.

a.2   No : 12/345/FH/UNUD DPS

a.3   Jalan Anggrek II/24

a.4   Tahun Ajaran 2008/2009

  1. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.

Contoh :

b.1  Biayanya Rp. 1.500,00 / orang

b.2  Harganya Rp.1000 / lembar.

2.5.15      Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda Apostrof menunjukan penghilangan bagian kata.

Contoh :

  1. Kapan datang, ‘ kak? ( ‘kak = kakak )
  2. ‘Kanda pergi dulu, ya? ( ‘kanda = kakanda )
  3. Jangan kesana ‘dik ( ‘dik = adik )
  4. Selamat siang ‘ kek ( ‘kek = kakek )
  5. ‘Dah aku bilang sama dia ( ‘dah = sudah )

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini penulis mempergunakan beberapa metode untuk memperoleh informasi dan data yang lengkap dan akurat tentang kemampuan menggunakan tanda baca pada Siswa  Kelas VII SMPN 1  Kuta Utara, Kecamatan Kuta  Utara ,Kabupaten Badung tahun pelajaran 2008/2009.Sebelum melakukan penelitian penulis telah menetapkan tujuan – tujuan yang hendak dicapai. Untuk mendapatkan tujuan tersebut maka diperlukan cara yang sistematis.Berdasarkan tahap – tahap yang di tempuh dalam penelitian ini penulis memilih metode yang dibedakan menjadi : (1) Metode penentuan subjek penelitian, (2) Metode pendekatan subjek penelitian, (3) Metode pengumpulan data, dan (4) Metode pengolahan data. Untuk lebih jelasnya keempat metode tersebut akan diuraikan secara rinci dibawah ini :

3.1 Metoda Penentuan Subjek Penelitian

Metoda penentuan subjek penelitian adalah merupakan suatu metode yang khusus dipergunakan untuk menentukan subjek yang akan dijadikan sample dalam penelitian (Netra, 1979:22). Untuk itu dalam membentuk subjek penelitian pada beberapa langkah kerja/ kegiatan yang penulis lakukan yaitu : (1) Penentuan Populasi Penelitan dan (2) Penentuan sampel penelitian.

3.1.1        Populasi Penelitian

Metode pendekatan subjek penelitian adalah merupakan suatu metode yang khusus yang dipergunakan untuk menentukan subjek yang akan dijadikan sampel dalam penelitian      ( Netra, 1979 : 22 ).

Dari hasil penelitian dan informasi yang diperoleh dari beberapa sumber yang erat hubungannya dengan masalah penelitian ini ditempuh dua langkah kerja yaitu : (1) Penentuan populasi, (2) Penentuan sampel penelitian. Hal ini penulis lakukan seiring dengan pendapat Netra, dimana dalam menentukan subjek penelitian digunakan metode sampling. Metode sampling adalah suatu cara pengambilan subjek penelitian, dimana subjek yang diselidiki terdiri atas sejumlah individu yang mewakili jumlah yang lebih besar ( Netra, 1974 : 23 ).

Sejalan dengan masalah dan ruang lingkup penelitian ini, maka yang menjadi populasi adalah semua kelas VII A dan VII B SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2008/ 2009. adapun anggota populasi penelitian ini dapat dilihat dalam table dibawah ini :

Tabel 01.  Populasi Siswa SMPN 1 Kuta Utara Kelas VII A dan VII B, Kabupaten Badung.

No.

Nama Kelas

Jumlah Siswa

Laki – laki

Perempuan

Jumlah

1

VII A

15

30

45

2

VII B

18

27

45

Jumlah

41

49

90

3.1.2        Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah bagian dari populasi serta dipandang sebagai wakil populasi   ( Netra,1987:10 ). Dalam menentukan sampel penelitian, penulis menggunakan beberapa teknik pengambilan sampel yaitu

  1. a.      Sampel Menurut Jumlah ( Quota Sampling )

Quota Sampling adalah cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara menentukan jumlah atau quota yang diinginkan terlebih dahulu tanpa memperhitungkan populasi. Berdasarkan pengertian sampel menurut jumlah atau quota sampling di atas, maka sampel dalam penelitian ini penulis tentukan sebanyak 60 orang.

  1. b.      Sampel Tanpa Pilih-Pilih ( Random Sampling )

Random Smpling adalah cara pengambilan sampel yang di lakukan dengan sembarangan atau acak, tetapi memberikan kepada subjek penelitian untuk di pilih. Sesuai dengan pengertian sampel tanpa pilih-pilih atau random sampling di atas, maka tiap-tiap individu dalam populasi di berikan kesempatan yang sama untuk di ambil menjadi anggota sampel tanpa mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan demikian maka semua siswa Kelas VII SMPN 1  Kuta Utara, Kabupaten Badung mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel penelitian.

Tabel 02. Sampel Siswa SMPN 1 Kuta Utara Kelas VII A dan VII B, Kabupaten Badung.

No.

Nama Kelas

Jumlah Siswa

Laki – laki

Perempuan

Jumlah

1

VII A

13

17

30

2

VII B

16

14

30

Jumlah

29

31

60

3.2 Metode Pendekatan Subjek Penelitian

Setelah penulis menentukan subjek penelitian, maka penulis kemudian mengadakan pendekatan terhadap subjek penelitian yang mendukung objek yang akan diselediki. Dalam mengadakan pendekatan terhadap subjek yang menjadi sampel penelitian, penulis menggunakan suatu metode yaitu metode empiris. Yang di maksud dengan metode empiris adalah suatu cara pendekatan, di mana gejala yang akan diselidiki itu sudah ada secara wajar     ( Netra, 1979 : 38 ).

Dengan mempergunakan metode empiris ini maka penulis di sini tidak lagi membuat situasi buatan., sebab situasi atau di mana gejala di sini yang akan di selidiki sudah ada secara wajar. Yang dimaksud gejala di sini adalah kemampuan siswa dalam menempatkan tanda baca  dalam menyusun karangan yang di buat oleh siswa Kelas VII SMPN 1  Kuta Utara, Kabupaten Badung.

3.3 Metode Pengumpulan Data

3.3.1      Penyusunan Tes

Sebelum penulis menyusun sebuah tes, terlebih dahulu penulis mengadakan penelitian pendahuluan yaitu dengan cara langsung berhubungan dengan guru pengajar bahasa Indonesia kelas  VII SMPN 1  Kuta Utara, Kabupaten Badung. Hal ini dilaksanakan dengan maksud untuk memperoleh data-data yang lengkap baik itu mengenai kurikulum, buku pegangan atau panduan, serta data-data yang berhubungan dengan penyusunan tes.

Adapun menganai tes yang akan di susun berdasarkan hasil penelitian adalah berbentuk sebuah karangan atau wacana yang belum dibubuhi tanda baca,kemudian siswa ditugaskan untuk mengisi tanda baca tersebut sehingga karangan atau wacana itu menjadi sempurna. Jumlah tanda baca yang akan di tempatkan dalam karangan tersebut sebanyak 60 buah, dengan waktu yang di berikan selama 90 menit.

3.3.2      Uji Coba Tes

Sebagai langkah awal sebelum tes itu diberikan kepada siswa, maka terlebih dahulu diujicobakan.Adapun tujuan melaksanakan uji coba tes ini adalah untuk mengtetahui tingkat kasukaran pada tes yang diberikan serta untuk mengukur ketepatan waktu dalam mengerjakan tes tersebut.  Melalui uji coba tes ini diharapkan dapat diketahui tingkat kesukaran tes dan tenggang waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tes tersebut.

3.4 Metode Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul, maka perlu diadakan pengolahan terhadap data tersebut. Sehingga didapatkan sutu kesimpulan yang bersifat umum. Adapun metode yang dipergunakan untuk mengolah data-data tersebut adalah metode analisis deskritif. Metode analisis deskritif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan cara menyusun data-data tersebut secara sistematis sehingga diperoleh suatu kesimpulan umum. ( Netra 1976 : 81 ). Hal ini tentu saja harus disesuaikan dengan data yang masuk.Untuk mengetahui kemampuan siswa menggunakan tanda baca dalam karangannya, maka diperlukan tes hasil belajar.Hasil tes tersebut nantinya penulis akan analisis sehimgga diperoleh data mengenai kemampuan siswa menggunakan tanda baca dalam karangannya.

Disini penulismempergunakan rumus norma absolute skala sebelas. Adapun prosedur yang ditempuh dalam mengevaluasi pekerjaan siswsa tersebut adalah :

  1. Mencari Sekor Maksimal Ideal  (SMI) dari tes yang telah diberikan kepada siswa. Yang dimaksud dengan Sekor Maksimal Ideal  (SMI) di sini adalah sekor yang mungkin dicapai apabila semua item dapat dijawab oleh siswa dengan benar, dan Sekor Maksimal Ideal  (SMI) di sini dapat di cari dengan jumlah soal yang diberikan dari masing – masing soal.
  2. Mencari angka Rata – rata Ideal (MI) tes tersebut dengan mempergunakan rumus sebagai berikut : MI = ½ x SMI.
  3. Dengan mencari Standar Deviasi Ideal (SDI) untuk tes tersebut dengan mempergunakan rumus sebagai berikut :SDI =  x MI
  4. Membuat pedoman konversi dengan mempergunakan criteria sebagai berikut :
MI + 2,25 X SD = 10
MI + 1,75 X SD = 9
MI + 1,25 X SD = 8
MI + 0,75 X SD = 7
MI + 0,25 X SD = 6
MI – 0,25 X SD = 5
MI – 0,75 X SD = 4
MI – 1,25 X SD = 3
MI – 1,75 X SD = 2
MI – 2,25 X SD = 1
0

( Nurkancana, 1992 : 102 )

Keterangan :

  1. M = Angka Rata – rata
  2. SD = Standar Deviasi Ideal.

Dengan menggunakan ketentuan – ketentuan di atas maka dapatlah ditentukan skor standar yang mungkin dicapai oleh siswa. Adapun klasifikasi skor yang mungkin dapat dicapai oleh siswa adalah sebagai berikut :

Tabel 03.  Klasifikasi Tingkat Kemampuan Menggunakan Tanda Baca Pada

Siswa  Kelas  VII  SMPN  1  Kuta  Utara, Kabupaten Badung.

NILAI STANDAR

PREDIKAT

(1)

(2)

10

Istimewa

9

Baik sekali

8

Baik

7

Lebih dari cukup

6

Cukup

5

Hampir cukup

4

Kurang

3

Kurang sekali

2

Buruk

1

Buruk sekali

BAB IV

PENYAJIAN HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan disajikan hasil – hasil penelitian berdasarkan dari       data – data yang dikumpulkan dengan instrument berupa tes. Metode ini digunakan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan menggunakan tanda baca dalam karangan pada siswa kelas VII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2008/2009.

Sebelum sampai pada data penyajian ini, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa hal yang menunjang proses pengolahan data dalam penelitian ini. Adapun beberapa hal – hal yang menunjang proses pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Keadaan data yang masuk, (2) Analisis data hasil kemampuan siswa menggunakan tanda baca dalam karangan, dan (3) Informasi pengajaran bahasa Indonesia.

4.1 Keadaan Data yang Masuk

Berdasarkan instrumen yang dipergunakan dalam pengumpulan data dan juga berdasarkan atas jumlah individu yang ditetapkan sebagai sumber data atau sampel dalam penelitian ini, maka secara keseluruhan data yang masuk adalah sebagai berikut :

Tabel 04.   Daftar Sumber Data Yang Masuk

No

Jenis Instrumen

Jumlah Sumber Data

(Populasi)

Jumlah Data yang Masuk

(Sampel)

Keterangan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Tes penempatan tanda baca dalam karangan

90

60

Lengkap

Dari tabel di atas dapat diartikan bahwa data yang masuk sebanyak 60 karangan sesuai dengan jumlah sampel yaitu jumlah siswa yang diteliti kemampuannya menggunakan tanda baca dalam karangan.

Setelah semua data yang diteliti masuk, maka mulailah data itu dianalisis dengan mengubah skor mentah menjadi skor standar dengan menggunakan norma absolut dengan prosedur yang ditempuh sebagai berikut :

Diketahui ;

  1. Skor Maksimal Ideal (SMI) = 60
  2. Angka Rata – rata Ideal (MI) =

MI =    ½  x  SMI

=    ½  x  60

=    30

3.    Standar Deviasi Ideal (SDI)   =

SDI =      x  MI

=       x  30     = 1

Berdasarkan data di atas maka nilai hasil konversi menurut pedoman norma absolut sekala sebelas adalah sebagai berikut :

10

MI + 2,25 X SDI        = 30 + 2,25 X 10         = 52,5

9

MI + 1,75 X SDI        = 30 + 1,75 X 10         = 47,5

8

MI + 1,25 X SDI        = 30 + 1,25 X 10         = 42,5

7

MI + 0,75 X SDI        = 30 + 0,75 X 10         = 37,5

6

MI + 0,25 X SDI        = 30 + 0,25 X 10         = 32,5

5

MI –  0,25 X SDI        = 30 –  0,25 X 10         = 27,5

4

MI –  0,75 X SDI        = 30 –  0,75 X 10         = 22,5

3

MI –  1,25 X SDI        = –  1,25 X 10              = 17,5

2

MI –  1,75 X SDI        = 30 –  1,75 X 10         = 12,5

1

MI –  2,25 X SDI        = 30 –  2,25 X 10         = 7,5

0

Dengan pedoman ketentuan – ketentuan diatas maka dapat ditentukan  skor standar yang dicapai oleh siswa. Apabila siswa mendapat sekor mentah 52,2 ke atas, maka siswa tersebut akan memperoleh sekor standar 10 atau dalam pringkat istimewa. Begitu pula jika siswa mendapat sekor mentah 47,5 sampai 52, maka siswa tersebut akan mendapat sekor 9 atau dalam predikat baik sekali, dan begitu seterusnya dengan skor – skor mentah yang lainnya.

4.2 Analisis Data Hasil  Kemampuan Siswa Menggunakan Tanda Baca Dalam Karangan

Berdasarkan data pedoman – pedoman konversi tersebut, maka sekor – sekor yang diperoleh siswa dalam menempatkan tanda baca dalam karangan adalah sebagai berikut :

Tabel 05. Daftar skor kemampuan Menggunakan Tanda Baca dalam          Karangan Siswa SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung.

No

Nama Siswa

Jenis Kel P/L

Penempatan Tanda Baca Yang Benar

Skor Mentah

Skor Standar

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Agus Darmawan I Wayan

L

31

51,67

9

Aldy Susanto Eka Putu. I Gd

L

26

43,33

7

Ari Megawati Ni Kadek

P

24

40

7

Arif Rundika I Gede

L

24

40

7

Awisa Dewi Ni Luh

P

19

31,67

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Ayu Atik Apriyanti I Gusti

P

17

28,33

5

Ayu Indra Dewi I Gusti

P

25

41,67

7

Ayu Intan Permana Putri Putu

P

26

43,33

8

Baiq Ayu Pertiwi

P

25

41,67

7

10. Bayu Suwarbawa Putra I G. Pt

L

27

45

8

11. Cakra Wisnu Wardana Made

L

25

41,67

7

12. Citra Ariantini Ni Made

P

27

45

8

13. Dewi Ariasih Ni Putu

P

26

36,67

6

14. Dian Wulandari Ni Luh

P

26

43,33

8

15. Diana Kusuma Wardani Ni Pt.

P

24

40

7

16. Eka Agustina Pratiwi Luh Pt .

P

34

56,67

10

17. Hari Wijayanti Desak Made

P

30

50

9

18. Indriyana Savitri Ni Made

P

18

30,00

5

19. Kusuma Widana I Gusti Ngr

L

26

43,33

8

20. Metri Tresnalyani Ni Kadek

P

22

36,67

6

21. Monica Andriani Ni Luh

P

29

48,33

9

22. Nanda Christy Dio V Putu

P

29

48,33

9

23. Normawati Ni Made

P

26

43,33

8

24. Oka Suwantara I Gede

L

28

46,67

8

25. Pujantara I Kadek

L

28

46,67

8

26. Suryantara Atmaja I Gede

L

19

31,67

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

27. Teguh Ananta S.P A.A. Made

L

24

40

7

28. Wiswa Wibawa Gede

L

29

48,33

9

29. Yoga Astra Sastriawan I Putu

L

24

40

7

30. Yuli Dwi Savitri Kadek

P

26

43,33

7

31. Adhi Sukhetia I Made

L

22

38,67

6

32. Adi Artayasa I Made

L

22

38,67

6

33. Adi Juniantara I Made

L

29

48,33

9

34. Agus Arya Adi D. I Gede

L

26

43,33

8

35. Antarini Pranatika

P

18

30,00

5

36. Arya Deva Suryanegara I Putu

L

24

40

7

37. Ayu Ari Ratih Gusti

P

26

43,33

8

38. Ayu Destrina Wangi I Gusti

P

25

41,67

7

39. Ayu Kezia Yasinta Ni Luh Pt.

P

29

48,33

9

40. Ayu Kusuma Dewi Ni Kadek

P

25

41,67

7

41. Ayu Putri Lestari Ni Putu

P

22

36,67

6

42. Yohana Intan Palupi

P

23

38,33

7

43. Titah Ayu Purwaningsih

P

26

43,33

7

44. Cahya Widiangga I Gede

L

28

46,67

8

45. Christian Priangga I Made

L

28

46,67

8

46. Darma Sentana I Kadek

L

26

43,33

7

47. Desi Diantara Ni Luh

P

40

66,67

10

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

48. Diah Kemala Sari Ni Luh Pt.

P

25

41,67

7

49. Dwi Candra Sawitri Ni Made

P

22

38,67

6

50. E. Putri Amalia

P

29

48,33

9

51. Edi Stiadi Prayoga I Gede

L

26

43,33

8

52. Hafis Safiano

L

22

38.67

6

53. Hening Nirmala Ni Putu

P

18

30,00

5

54. Kurnia Oktaviana

P

25

41,67

7

55. Nuastra I Made

L

28

46,67

8

56. Rahadian Tisnadi I Made

L

29

48,33

9

57. Simajaya I Kadek

L

40

66,67

10

58. Sucipta I Gede

L

26

43,33

7

59. Surya Ardika I Putu

L

26

43,33

7

60. Surya Pratama Gede

L

24

40

7

Jumlah :

2.363,01

442

Rata-rata:

39,38

7,36

Tabel 06.  Predikat Hasil Penelitian kemampuan Menggunakan Tanda Baca dalam Karangan Siswa SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung.

No

Nama Siswa

Skor Mentah

Skor Standar

Predikat

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Agus Darmawan I Wayan

51,67

9

Baik sekali

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Aldy Susanto Eka Putu. I Gd

40

7

Lebih dari cukup
Ari Megawati Ni Kadek

40

7

Lebih dari cukup
Arif Rundika I Gede

31,67

5

Hampir cukup
Awisa Dewi Ni Luh

28,33

5

Hampir cukup
Ayu Atik Apriyanti I Gusti

41,67

7

Lebih dari cukup
Ayu Indra Dewi I Gusti

43,33

8

Baik
Ayu Intan Permana Putri Putu

41,67

7

Lebih dari cukup
Baiq Ayu Pertiwi

45

8

Baik
10.  Bayu Suwarbawa Putra I G. Pt

41,67

7

Lebih dari cukup
11.  Cakra Wisnu Wardana Made

45

8

Baik
12.  Citra Ariantini Ni Made

36,67

6

Cukup
13.  Dewi Ariasih Ni Putu

43,33

8

Baik
14.  Dian Wulandari Ni Luh

40

7

Lebih dari cukup
15.  Diana Kusuma Wardani Ni Pt.

56,67

10

Istimewa
16.  Eka Agustina Pratiwi Luh Pt .

50

9

Baik sekali
17.  Hari Wijayanti Desak Made

30,00

5

Hampir cukup
18.  Indriyana Savitri Ni Made

43,33

8

Baik
19.  Kusuma Widana I Gusti Ngr

36,67

6

Cukup
20.  Metri Tresnalyani Ni Kadek

48,33

9

Baik sekali
21.  Monica Andriani Ni Luh

48,33

9

Baik sekali
22.  Nanda Christy Dio V Putu

43,33

8

Baik

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

23.  Normawati Ni Made

46,67

8

Baik
24.  Oka Suwantara I Gede

46,67

8

Baik
25.  Pujantara I Kadek

31,67

5

Hampir cukup
26.  Suryantara Atmaja I Gede

40

7

Lebih dari cukup
27.  Teguh Ananta S.P A.A. Made

48,33

9

Baik sekali
28.  Wiswa Wibawa Gede

40

7

Lebih dari cukup
29.  Yoga Astra Sastriawan I Putu

43,33

7

Lebih dari cukup
30.  Yuli Dwi Savitri Kadek

38,67

6

Cukup
31.  Adhi Sukhetia I Made

38,67

6

Cukup
32.  Adi Artayasa I Made

48,33

9

Baik sekali
33.  Adi Juniantara I Made

43,33

8

Baik
34.  Agus Arya Adi D. I Gede

30,00

5

Hampir cukup
35.  Antarini Pranatika

40

7

Lebih dari cukup
36.  Arya Deva Suryanegara I Putu

43,33

8

Baik
37.  Ayu Ari Ratih Gusti

41,67

7

Lebih dari cukup
38.  Ayu Destrina Wangi I Gusti

48,33

9

Baik sekali
39.  Ayu Kezia Yasinta Ni Luh Pt.

41,67

7

Lebih dari cukup
40.  Ayu Kusuma Dewi Ni Kadek

36,67

6

Cukup
41.  Ayu Putri Lestari Ni Putu

38,33

7

Lebih dari cukup
42.  Yohana Intan Palupi

43,33

7

Lebih dari cukup
43.  Titah Ayu Purwaningsih

46,67

8

Baik

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

44.  Cahya Widiangga I Gede

46,67

8

Baik
45.  Christian Priangga I Made

43,33

7

Lebih dari cukup
46.  Darma Sentana I Kadek

66,67

10

Istimewa
47.  Desi Diantara Ni Luh

41,67

7

Lebih dari cukup
48.  Diah Kemala Sari Ni Luh Pt.

38,67

6

Cukup
49.  Dwi Candra Sawitri Ni Made

48,33

9

Baik sekali
50.  E. Putri Amalia

43,33

8

Baik
51.  Edi Stiadi Prayoga I Gede

38.67

6

Cukup
52.  Hafis Safiano

30,00

5

Hampir cukup
53.  Hening Nirmala Ni Putu

41,67

7

Lebih dari cukup
54.  Kurnia Oktaviana

46,67

8

Baik
55.  Nuastra I Made

48,33

9

Baik sekali
56.  Rahadian Tisnadi I Made

66,67

10

Istimewa
57.  Simajaya I Kadek

43,33

7

Lebih dari cukup
58.  Sucipta I Gede

43,33

7

Lebih dari cukup
59.  Surya Ardika I Putu

40

7

Lebih dari cukup
60.  Surya Pratama Gede

38,67

6

Cukup

Jumlah:

2.363,01

442

Rata-rata:

39,38

7,36

Lebih dari cukup

Tabel 07.  Kelompok Prestasi Siswa SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung Tahun Pelajaran 2008/ 2009 dalam kemampuan Menggunakan Tanda Baca dalam Karangan

No

Nilai

Kemampuan menggunakan tanda baca

Keterangan

Jumlah Siswa

Prosentase (%)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

10

3 orang

5 %

Istimewa

9

8 orang

13,33 %

Baik Sekali

8

14 orang

23,33 %

Baik

7

20 orang

33,33 %

Lebih dari cukup

6

8 orang

13,33%

Cukup

5

7 orang

11,67 %

Hampir cukup

4

-

-

Kurang

3

-

-

Kurang Sekali

2

-

-

Buruk

10. 

1

-

-

Buruk sekali

Dari 60 orang yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, terdapat  orang yang memperoleh nilai istimewa,  orang yang memperoleh nilai baik sekali, orang memperoleh nilai baik,  orang yang memperoleh nilai lebih dari cukup,  orang memperoleh nilai cukup serta  orang memperoleh nilai hampir cukup.

Berikut ini akan penulis perinci kemampuan dalam ketepatan menempatkan tanda baca dalam karangan dari masing-masing siswa berdasarkan urutan nilai dari yang tertinggi sampai terendah :

  1. 3 orang siswa ( 5% ) tergolong istimewa
  2. 8 orang siswa ( 13,33% ) tergolong baik sekali
  3. 14 orang siswa ( 23,33% ) tergolong baik
  4. 20 orang siswa ( 33,33% ) tergolong lebih dari cukup
  5. 8 orang siswa ( 13,33% ) tergolong cukup
  6. 7 orang siswa ( 11,67% ) tergolong hampir cukup

4.3 Informasi Pengajaran Bahasa Indonesia

Sebagai pelengkap dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menyajikan hal – hal yang berhubungan dengan pengajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mengenai pembahasannya akan dibatasi pada masalah – masalah : (1) pengajaran tanda baca, (2) pengajaran mengarang, (3) sarana pengajaran, (4) kesiapan guru.

4.3.1        Pengajaran Tanda Baca

Dalam memberikan pengajaran tanda baca, terlebih dahulu guru menjelaskan tentang tanda baca, baik dari segi arti, fungsi sampai pada penempatannya dalam sebuah kalimat atau wacana ( Trigan, 1986 : 25 ). Setelah semua materi tentang tanda baca sudah dipahami barulah guru memberikan latihan – latihan seperti menyuruh siswa membuat sebuah kalimat sampai dengan memberikan sebuah wacana yang tanda bacanya dihilangkan atau belum dibubuhi tanda baca. Apabila dalam mengerjakan latihan – latihan itu siswa mendapatkan kesulitan, maka guru akan memberikan bimbingan sampai siswa tersebut mengerti kesulitan yang di alaminya. Untuk lebih memperdalam pemahaman siswa mengenai tanda baca, guru juga akan memberikan tugas – tugas yang harus dikerjakan di rumah oleh siswa.

4.3.2        Pengajaran Mengarang

Dalam pengajaran bahasa, mengarang merupakan salah satu wahana yang penting dalam melatih siswa untuk lebih komunikatif( Nafiah, A. Hadi. 1980 : 30) Hal ini sesuai dengan fungsi dari bahasa itu sendiri dalam komunikasi. Usaha yang dilakukan oleh guru – guru yang mengajar di SMPN 1 Kuta Utara adalah dengan cara sering memberikan tugas – tugas untuk membuat karangan kepada siswanya. Namun, sebelum sebelum guru memberikan tugas – tugas tersebut, terlebih dahulu guru sudah memberikan penjelasan – penjelasan mengenai    syarat – syrat mengarang yang baik.

4.3.3        Sarana Pengajaran

Setelah penulis mengadakan peninjauan di SMPN 1 Kuta Utara, ternyata sarana pengajaran yang tersedia khususnya bahasa Indonesia sudah lebih dari cukup. Hal ini dapat di ketahui baik dari buku pegangan guru, buku paket siswa, dan buku penunjang (LKS).

Di samping itu, jumlah buku – buku di perpustakaan sekolah cukup memadai. Pada waktu istirahat atau ada waktu luang, sebagaian siswa memanfaatkan ruang perpustakaan untuk membaca – baca buku. Dari penjelasan diatas bahwa perpustakaan yang ada sebagai fasilitas pengadaan buku – buku khususnya buku bahasa Indonesia sudah memadai, dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh siswa.

4.3.4        Kesiapan Guru

Guru – guru yang mengajar disekolah tempat lokasi penelitian merupakan tenaga pengajaran tetap. Di lihat dari persiapan mengajar guru dapat dikatakan baik, dilihat program pengajaran, satuan pengajaran (SP), semua sudah disiapkan oleh guru.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa dari segi pendidikan, persiapan, dan pelaksanaan pengajaran guru sudah tergolong baik. Hal ini dapat mempengaruhi tingginya prestasi belajar siswa.

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan memaparkan beberapa hal – hal sebagai berikut : (1) simpulan, dan (2) saran – saran.

5.1       Simpulan

Dari hasil seluruh penelitian ini yang isajikan pada Bab IV dan juga atas dasar analisis data yang telah dikemukakan, maka kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut :

  1. a.            Berdasarkan nialai rata – rata seluruh sampel, ternyata milai kemampuan menggunakan tanda baca dalam karangan pada siswa kelas VIII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung adalah 7,36 yang jika dibulatkan menjadi 7. dengan demikian kemampuan siswa menggunakan tanda baca dalam karangan dapat digolongkan ke dalam kategori lebih dari cukup. Hal ini sesuai dengan kriteria penilaian yang telah dikemukakan sebelumnnya.
  2. b.            Berdasarkan batas presentase yang dimiliki oleh siswa kelas VIII SMPN 1 Kuta Utara, Kabupaten Badung tentang penggunaan tanda baca dapat dirinci sebagai berikut : 3 orang siswa ( 5% ) tergolong istimewa, 8 orang ( 13,33% ) tergolong baik sekali, 14 orang ( 23,33% ) tergolong baik, 20 orang ( 33,33% ) tergolong lebih dari cukup, 8 orang ( 13,33% ) tergolong cukup serta 7 orang ( 11,67% ) tergolong hampir cukup. Hal ini sesuai dengan kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengolahan data tentang kemampuan siswa menggunakan tanda baca dalam karangan yang telah dikemukakan sebelumnnya.

5.2       Saran – saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, maka             saran – saran yang dapat penulis sampaikan sebagai berikut :

  1. Kepada semua guru – guru diharapkan agar lebih mendalami atau menguasai materi yang hendak disampaikan agar menumbuhkan gairah siswa belajar dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
  2. Dalam pengajaran mengarang hendaknya guru memperbanyak memberikan latihan – latihan kepada siswa, sehingga dapat diketahui kesalahan – kesalahan siswa dalam penggunaan tanda baca dalam karangan.
  3. Dengan mengadakan kegiatan – kegiatan perlombaan pada hari – hari nasional yang berhubungan dengan dunia pendidikan, seperti mengadakan perlombaan mengarang pada kegiatan bulan bahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah,  Sabarti M.K, dkk.1997. Menulis 1, Depdikbud, Proyek Penataran Guru

SLTP Setara D-III.

. 1992. Bahasa Indonesia Modul Program Penyetaraan D-II Guru-guru SD

Arikunto,   Suharsimi, 1989 Produser penelitiansuatu pendekatan praktis, Yogyakarta : Bina Aksara.

Badudu, J.B. 1997. Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Prima

Cholid Narbuko Dkk, (2001), Metodologi Penelitian, Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta

Depdikbud.  1993 Kamus  Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

. 1994 Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-Garis Besar Program

Pengajaran Jakarta.

.  1996 Pedoman  Umum Ejaan Yang Disempurnakan : Surabaya

Keraf, Gorys. 1980. Komposisi, Ende; Nusa Indah

Nafiah, A. Hadi 1980. Anda ingin jadi Pengarang, Surabaya ; Usaha Nasional

Nurkencana. 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.

Poewadaminta. 1981. Karang Mengarang. Yogyakarta : UP. Karyono

Tarigan, Djago. 1986. Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung : Angkasa

. 1991. Masalah Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta :

Universitas Terbuka.

. 1998. Pengajaran Analisis Kesalahan.Bandung : Angkasa

Trisnosantoso. M, Sukisno. 1987. Pelajaran Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.Semarang : Aneka Il

Lampiran 4 :

Pembahasan Tabel 05

  1. 31/60 x 100% = 51,67
  2. 26/60 x 100% = 43,33
  3. 24/60 x 100% = 40
  4. 24/60 x 100% = 40
  5. 19/60 x 100% = 31,67
  6. 17/60 x 100% = 28,33
  7. 25/60 x 100% = 41,67
  8. 26/60 x 100% = 43,33
  9. 25/60 x 100% = 41.67

10.  27/60 x 100% = 45

11.  25/60 x 100% = 41,67

12.  27/60 x 100% = 45

13.  26/60 x 100% = 36,67

14.  26/60 x 100% = 43,33

15.  24/60 x 100% = 40

16.  34/60 x 100% = 56,67

17.  30/60 x 100% = 50

18.  18/60 x 100% = 30,00

19.  26/60 x 100% = 43,33

20.  22/60 x 100% = 36,67

21.  29/60 x 100% = 48,33

22.  29/60 x 100% = 48,33

23.  26/60 x 100% = 43,33

24.  28/60 x 100% = 46,67

25.  28/60 x 100% = 46,67

26.  19/60 x 100% = 31,67

27.  24/60 x 100% = 40

28.  29/60 x 100% = 48,33

29.  24/60 x 100% =40

30.  26/60 x 100% = 43,33

31.  22/60 x 100% = 38,67

32.  22/60 x 100% = 38,67

33.  29/60 x 100% = 48,33

34.  26/60 x 100% =  43,33

35.  18/60 x 100% = 30,00

36.  24/60 x 100% = 40

37.  26/60 x 100% = 43,33

38.  25/60 x 100% = 41,67

39.  29/60 x 100% = 48,33

40.  25/60 x 100% = 41,67

41.  22/60 x 100% = 36,67

42.  23/60 x 100% = 38,33

43.  26/60 x 100% = 43,33

44.  28/60 x 100% = 46,67

45.  26/60 x 100% = 46,67

46.  26/60 x 100% = 43,33

47.  40/60 x 100% = 66,67

48.  25/60 x 100% = 41,67

49.  22/60 x 100% = 38,67

50.  29/60 x 100% = 48,33

51.  26/60 x 100% = 43,33

52.  22/\60 x 100% = 38,67

53.  18/60 x 100% = 30,00

54.  25/60 x 100% = 41,67

55.  28/60 x 100% = 46,67

56.  29/60 x 100% = 48,33

57.  40/60 x 100% = 66,67

58.  26/60 x 100% = 43,33

59.  26/60 x 100% = 43,33

60.  24/60 x 100% = 40

Jumlah Total Skor Mentah = 2.363,01

Rata-rata Skor Mentah   =            Total Skor Mentah

Skor Maksimal Ideal (SMI)

=           2.363,01

60

=             39,38

Pembahasan Tabel 06

61.  31/60 x 100% = 51,67

62.  26/60 x 100% = 43,33

63.  24/60 x 100% = 40

64.  24/60 x 100% = 40

65.  19/60 x 100% = 31,67

66.  17/60 x 100% = 28,33

67.  25/60 x 100% = 41,67

68.  26/60 x 100% = 43,33

69.  25/60 x 100% = 41.67

70.  27/60 x 100% = 45

71.  25/60 x 100% = 41,67

72.  27/60 x 100% = 45

73.  26/60 x 100% = 36,67

74.  26/60 x 100% = 43,33

75.  24/60 x 100% = 40

76.  34/60 x 100% = 56,67

77.  30/60 x 100% = 50

78.  18/60 x 100% = 30,00

79.  26/60 x 100% = 43,33

80.  22/60 x 100% = 36,67

81.  29/60 x 100% = 48,33

82.  29/60 x 100% = 48,33

83.  26/60 x 100% = 43,33

84.  28/60 x 100% = 46,67

85.  28/60 x 100% = 46,67

86.  19/60 x 100% = 31,67

87.  24/60 x 100% = 40

88.  29/60 x 100% = 48,33

89.  24/60 x 100% =40

90.  26/60 x 100% = 43,33

91.  22/60 x 100% = 38,67

92.  22/60 x 100% = 38,67

93.  29/60 x 100% = 48,33

94.  26/60 x 100% =  43,33

95.  18/60 x 100% = 30,00

96.  24/60 x 100% = 40

97.  26/60 x 100% = 43,33

98.  25/60 x 100% = 41,67

99.  29/60 x 100% = 48,33

  1. 25/60 x 100% = 41,67
  2. 22/60 x 100% = 36,67
  3. 23/60 x 100% = 38,33
  4. 26/60 x 100% = 43,33
  5. 28/60 x 100% = 46,67
  6. 26/60 x 100% = 46,67
  7. 26/60 x 100% = 43,33
  8. 40/60 x 100% = 66,67
  9. 25/60 x 100% = 41,67
  10. 22/60 x 100% = 38,67
  11. 29/60 x 100% = 48,33
  12. 26/60 x 100% = 43,33
  13. 22/\60 x 100% = 38,67
  14. 18/60 x 100% = 30,00
  15. 25/60 x 100% = 41,67
  16. 28/60 x 100% = 46,67
  17. 29/60 x 100% = 48,33
  18. 40/60 x 100% = 66,67
  19. 26/60 x 100% = 43,33
  20. 26/60 x 100% = 43,33
  21. 24/60 x 100% = 40

Jumlah Total Skor Mentah = 2.363,01

Rata-rata Skor Mentah   =            Total Skor Mentah

Skor Maksimal Ideal (SMI)

=           2.363,01

60

=             39,38

Pembahasan Tabel 07

  1. 3/60 x 100 % = 5 %
  2. 8/60 x 100% = 13,33 %
  3. 14/60 x 100% = 23,33 %
  4. 20/60 x 100% = 33,33 %
  5. 8/60 x 100% = 13,33 %
  6. 7/60 x 100% = 11,67 %


About this entry